Rabu, 19 Juni 2013

Bab II:PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL (EQ), KECERDASAN SPIRITUAL (SQ), DAN MINAT BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN KEWIRAUSAHAAN KELAS X DI SMK PGRI 6 MALANG TAHUN PELAJRAN 2012/2013

16
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Empiris
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan minat belajar terhadap prestasi belajar siswa. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh Eva Kristina (2006) dalam skripsinya “Pengaruh Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ), Terhadap Prestasi Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Ekonomi Kelas VIII SMPN 4 Malang.
Kesimpulan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) baik secara serentak (simultan/bersama-sama) maupun sendiri-sendiri (parsial) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran ekonomi. Hal ini berarti siswa yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi memiliki prestasi yang tinggi pula. Karena itu, diharapkan orang tua selalu mengawasi, mengarahkan serta membimbing anaknya dalam belajar. Tidak kalah pentingnya perhatian seorang guru untuk bisa memberikan pelajaran yang menarik sehingga pada saat proses pembelajaraan siswa akan terfokus pada seorang guru yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
17
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu
No
Nama
Judul
Variabel
Hasil Penelitian
1.
Ngaliyati (2010)
Hubungan Antara Kecerdasan Spiritual
Dengan Perilaku Keberagaman Siswa
di MAN Malang II Kota Batu
Variabel X (Kecerdasan )
Variabel Y (Perilaku Keberagaman)
Dari perhitungan yang penulis lakukan diperoleh : r = 2,77, diformulsikan dengan rumus t hit = 2,77 lalu dikonsultasikan
dengan t tab = 0,05 adalah = 1,68. Maka t hit t tab, sehingga Ho di tolak.
Dengan demikian berarti : “ada korelasi yang signifikan antara kecerdasan
spiritual dengan perilaku keberagamaan siswa MAN Malang II Kota Batu”
2.
Filia Rachmi (2010)
Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, Dan Perilaku Belajar Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi.
(Studi Empiris Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Diponegoro Semarang Dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta)
Variabel X1 (kecerdasan emosional)
Variabel X2 (perilaku belajar)
Variable Y (Tingkat Pemahaman Akuntansi)
Hasil pengujian hipotesis mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan perilaku belajar berpengaruh terhadap tingkat pemahaman akuntansi.
3.
Ratno Pambudi (2008)
Hubungan Hambatan Belajar dan Minata Belajar Dengan Prestasi Belajar Kimia Siswa Kelas XI Semester I SMA MUHAMMADIAH 1 BANTUL Tahun 2007/2008
Variabel X1 (hambatan belajar)
Variabel X2 (minat belajar)
Variabel Y
(prestasi belajar)
Dari hasil penelitian didapat garis regresi Y= -0,124937X1 + 0,081614X2 + 4,850453. Dari hasil garis regresi tersebut didapat hubungan yang negatif dan signifikan antara hambatan belajar dengan prestasi belajar kimia. Didapat juga hubungan yang positif dan signifikan antara minat dengan prestasi belajar kimia.
18
Lanjutan tabel 2.1
No
Nama
Judul
Variabel
Hasil Penelitian
4.
Wahyu Triono (2008)
Pengaruh Emotional Quontient (EQ), Spiritual Quontient (SQ), Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Kelas XI di SMK Kepanjen.
Variabel X1 (Emotional Quontient)
Variabel X2 (Spiritual Quontient)
Variabel Y(Prestasi Belajar Akuntansi)
Hasil pengujian hipotesis mengindikasikan bahwa Emotional Quontient, Spiritual Quontient dan Motivasi Belajar berpengaruh terhadap Prestasi Belajar Akuntansi
Sumber : penelitian terdahulu
Persamaan penelitian ini dengan penelitiaan terdahulu yang dijadikan sebagai acuan adalah dalam Ngaliyati sama-sama menggunakan variabel independen (X) yaitu Kecerdasan Spiritual. Penelitian yang dilakukan oleh Filia Rachmi dan Wahyu Triono sama-sama menggunakan variabel independennya yaitu kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, pada penelitian Ratno Pambudi sama-sama menggunakan variabel independen (X) yaitu Minat Belajar.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitiaan terdahulu di atas sehingga peneliti menggunakannya sebagai acuan adalah pada penelitian ini peneliti menggunakan variabel independen (X1) yaitu Kecerdasan Emosional, untuk (X2) yaitu Kecerdasan Spiritual, untuk (X3) yaitu Minat Belajar dan variabel dependennya (Y) yaitu prestasi belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Ngaliyati (2010) menggunakan variabel independen (X) yaitu Kecerdasan Spiritual dan variabel dependennya (Y) yaitu Perilaku Keberagaman, Filia Rachmi (2010) menggunakan variabel independen (X1) yaitu Kecerdasan Emosional, (X2) yaitu Kecerdasan Spiritual, (X3) yaitu Perilaku Belajar dan variabel dependennya (Y) yaitu tingkat pemahaman akuntansi. Penelitian yang
19
dilakukan oleh Ratno Pambudi (2008) menggunakan variabel independen (X1) yaitu Hambatan Belajar. Penelitian Wahyu Triono (2008) menggunakan variabel independen (X1) yaitu Emotional Quontient, (X2) yaitu Spiritual Quontient (X3) yaitu Motivasi Belajar dan variabel dependennya (Y) yaitu Tingkat Pemahaman Akuntansi. Proses analisis data yang dilakukan peneliti sekarang menggunakan analisis regresi berganda, sedangkan penelitian terdahulu pada Ngaliyati (2010) menggunakan korelasi product moment. Selain itu tempat penelitian ini dengan penelitian terdahulu juga berbeda.
2.2 Tinjauan Teoritis
2.2.1. Kecerdasan Emosional (EQ)
Berbagai macam konsep kecerdasan emosional (EQ) maka masyarakat mengukur atau menggunakannya sebagai parameter kecerdasan. Hal ini dipakai untuk menentukan tingkat kesuksesan dan keberhasilan seseorang dalam hidup.
2.2.1.1 Pengertian Kecerdasan Emosional (EQ)
Kecerdasan emosional erat hubungannya dengan perasaan dasar manusia. Menurut Goleman (2003:4) emosi menuntut kita menghadapi saat-saat kritis dan tugas-tugas yang terlampau riskan bila hanya diserahkan kepada otak. Perasaan biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya, sugesti, kelelahan dan perhatian inteligensi sehingga ikut mewarnai emosi.
Agustin (2005:42) mengungkapkan secara sederhana emotional quontient (EQ) adalah kemampuan untuk merasa, kunci kecerdasan emosi anda adalah pada kejujuran suara hati anda. Kecerdasan emosional bukanlah muncul dari pemikiran intelek yang jernih, tetapi dari pekerjaan suara hati manusia.
20
Menurut Widyarto Adi (2004:4) Emotional Quontient adalah kemampuan atau kecerdasan emosional yang mempengaruhi perilaku menyangkut lima bidang yaitu (1) pengenalan emosi diri (2) pengendalian emosi (3) kemampuan untuk memotivasi diri (4) sehingga mampu mengenali emosi orang lain (empati) dan (5) akhirnya mampu mengendalikan hubungan antar manusia.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional (EQ) adalah suatu kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri dan orang lain dengan menggunakan perasaannya untuk dapat memandu pikiran dan tindakannya. Emotional Quontient (EQ) bukanlah pemanfaatan psikologi untuk mengendalikan mengeksploitasi, memanipulasi seseorang atau kamoflase belaka tetapi untuk mampu menggerakan jiwa, pikiran dan hati untuk melakukan hal yang baik dan selalu berpikiran positif.
2.2.1.2 Ruang Lingkup Kecerdasan Emosional
Goleman (2003:151) mengemukan konsep mengenai Emotional Quontient (EQ) dengan model empat penjuru yang merupakan pemindahan kecerdasan emosional dari dunia analisis psikologis dan teori-teori filosofis di dalam dunia yang nyata dan praktis. Empat penjuru tersebut adalah.
1. Kesadaran emosi, jujur dan tulus terhadap diri sendiri: membangun kekuatan pribadi (termasuk kesadaran diri), mendengarkan suara hati, hormat, tanggung jawab, dan koneksi.
2. Kebugaran emosi, mantapkan diri dan maju terus bangun inspirasi diri sendiri dan orang lain termasuk keaslian, keuletan dan hubungan saling percaya.
21
3. Kedalaman emosi, membangun watak dan kewibawaan, membangkitkan potensi, integritas dan tujuan hidup.
4. Kedalaman emosi, merangsang peluang dan menciptakan masa depan, membangun titik temu, inovasi intuitif, transpormasi situasional dan kecerdasan yang luwes
Menurut Goleman (2003:329) seseorang yang mengalami kemerosotan emosi akan mengalami perilaku seperti di bawah ini.
1. Menarik diri dari pergaulan atau masalah sosial, lebih suka menyendiri, bersikap sembunyi-sembunyi, banyak bermuram durja, kurang bersemangat, merasa tidak bahagia, terlampau bergantung
2. Cemas dan depresi, menyendiri, sering takut dan cemas, ingin sempurna, merasa tidak dicintai, merasa gugup atau sedih dan depresi
3. Memiliki masalah dalam hal perhatian atau berfikir, tidak mampu memusatkan perhatian atau duduk tenang, melamun, bertindak tanpa berfikir, bersikap terlalu tegang untuk berkonsentrasi, sering mendapat nilai buruk di sekolah, tidak mampu membuat pikiran menjadi tenang.
4. Nakal atau agresif, bergaul dengan anak-anak yang bermasalah, bohong dan menipu, sering bertengkar, bersikap kasar terhadap orang lain, membandel di sekolah dan di rumah, keras kepala dan suasan hatinya sering berubah-ubah, terlalu banyak bicara, sering mengolok-olok, bertempramen pemanas.
Apabila seseorang memiliki kecerdasan emosi yang baik, maka kemersotan emosi yang diterangkan di atas tidak akan terjadi. Ada beberapa keuntungan bila seseorang mempunyai kecerdasan emosi yang baik antara lain.
22
1. Kecerdasan emosional mampu menjadikan alat untuk pengendalian diri sehingga seseorang tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan bodoh yang merugikan diri sendiri dan orang lain
2. Kecerdasan emosional dapat diimplementasikan sebagai cara yang sangat baik untuk memusatkan dan membesarkan ide, konsep atau bahkan sebuah produk, dengan pemahaman tentang diri, kecerdasan emosional juga menjadi cara terbaik dalam membangun lobi jaringan dan kerja sama.
3. Kecerdasan emosional adalah modal penting bagi seseorang untuk mengembangkan bakat kepemimpinan dalam bidang apapun juga.
Untuk mencapai tujuan di atas, diperlukan kiat-kiat khusus yang dapat dilakukan yakni diantaranya kemampuan untuk mengekspresikan diri, mengemukan ide, gagasan atau pendapat dan mengkomunikasikan dengan orang lain. Bisa juga dilakukan dengan pembelajaran hidup berorganisasi dan bersosialisasi.
2.2.1.3 Komponen-Komponen Kecerdasan Emosional
Sebagaimana telah dipaparkan di atas bahwa konsep kecerdasan emosional terdiri atas lima komponen yaitu: (1) kemampuan mengenal emosi diri sendiri (2) mengelola mengekspresikan emosi (3) memotivasi diri sendiri, (4) mengenali emosi orang lain dan (5) membina hubungan dengan orang lain.
Goleman (2003) secara garis besar membagi dua kecerdasan emosional, yaitu kompetensi personal (pribadi) yang meliputi pengenalan diri (kesadaran diri), pengendalain diri (pengaturan diri), motivasi diri, dan kompetensi sosial yang terdiri dari empati dan ketrampilan sosial. Goleman mengadaptasi lima hal
23
yang tercakup dalam kecerdasan emosional dari model Salovey dan Mayer, dalam penelitian ini, komponen kecerdasan emosional yang dipakai adalah komponen kecerdasan emosional menurut Goleman (2003:48), yaitu sebagai berikut.
1. Mengenal Emosi Diri Sendiri
Mengenal emosi diri yaitu kesadaran diri untuk mengenali perasaan dari waktu ke waktu. Kemampuan untuk mengenal emosi diri sendiri merupakan dasar kecerdasan emosional yaitu kesadaran diri untuk menggali perasaan dari waktu ke waktu dalam kehidupan individu. Emosi merupakan garis-garis kehidupan untuk kecerdasan diri dan keselamatan diri yang menghubungkan seseorang dengan orang lain. Kecerdasan emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual yang biasa dikenal dengan IQ, namun keduanya berinteraksi secara dinamis. Perlu diakui bahwa pada kenyataannya kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah, tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Kesadaran diri adalah kemampuan merasakan emosi tepat pada waktunya dan kemampuan dalam memahami kecenderungan dalam situasi tersebut. Kesadaran diri menyetakan kemampuan seseorang menguasai reaksi pada berbagai peristiwa, tantangan, bahkan orang-orang tertentu. Kesadaran diri yang tinggi dapat memungkinkan seseorang untuk memonitor dan meneliti tindakan yang dilakukannya, dengan tidak mempunyai kesadaran tinggi, seseorang tidak memiliki informasi yang memadai untuk dapat mengambil keputusan yang efektif.
Goleman (2003) menyatakan bahwa kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini di perlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar
24
timbul pemahaman tentang diri. Kesadaran diri merupakan ketrampilan dasar yang vital untuk ketiga kecekapan emosi:
a. kesadaran emosi: mengetahui pengaruh emosi terhadap kinerja, dan mampu menggunakan nilai-nilai untuk memandu membuat keputusan.
b. penilaian diri secara akurat: mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri.
c. percaya diri: keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri.
2. Mengelola Emosi
Mengelola emosi berarti memahaminya, lalu menggunakan pemahan tersebut untuk menghadapi situasi secara produktif; bukannya menekan emosi dan menghilangkan informasi berharga yang disampaikan oleh emosi kepada diri sendiri (Weisinger, 2006). Salovey dalam Goleman (2003) menyatakan bahwa mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu.
Menurut Goleman (2003) pengaturan diri adalah mengelola kondisi, implus, dan sumber daya diri sendiri. Kecakapan emosi utama dalam pengaturan diri adalah sebagai berikut.
a. Pengendalian diri: mengelola emosi dan implus yang merusak dengan efektif.
b. Dapat dipercaya: memelihara norma kejujuran dan integritas.
25
c. Kehati-hatian: dapat diandalkan dan bertanggungjawab dalam memenuhi kewajiban.
d. Adaptabilitas: keluwesan dalam menangani perubahan dan tantangan.
e. Inovasi: bersikap terbuka terhadap gagasan, pendekatan baru, dan informasi terkini.
3. Memotivasi Diri Sendiri
Menurut Sardiman (2012:73) motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian dan keterampilan tenaga dan waktunya untuk menyelanggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya. Motivasi dapat bersumber dari dalam diri seseorang (motivasi internal atau motivasi intrinsik), akan tetapi dapat pula bersumber dari luar diri orang yang bersangkutan (motivasi eksternal atau motivasi instrinsik).
Menurut Goleman (2003) menyatakan bahwa motivasi adalah kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan perahian sasaran. Penataan emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri, dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. Kecakapan emosi yang terdapat dalam motivasi adalah.
a. Dorongan prestasi: dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan.
b. Komitmen: menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau perusahaan.
26
c. Inisiatif: kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan.
d. Optimisme: kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan.
4. Mengenali Emosi Orang Lain
Empati atau mengenal emosi orang lain di bangun berdasarkan pada kesadaran diri. Seseorang yang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat di pastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain sebaliknya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain. Sebenarnya, empati membuat seseorang lebih tegas dan sadar diri, karena empati memberi informasi yang kaya tentang orang lain dan hubungannya dengan mereka. Mengetahui persaan orang lain membantu seseorang menghargai individualitasnya. Empati juga memotivasi dan mengilhami tindakan, menjadikannya sumber daya yang memberdayakan bagi kehidupan pribadi dan sosial.
Menurut Goleman (2003) empati adalah kecerdasan terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain. Emosi pada tingkat yang paling rendah, empati mempersyaratkan kemampuan membaca emosi orang lain; pada tataran yang lebih tinggi, empati mengharuskan kita mengindra dan menanggapi kebutuhan atau perasaan seseorang yang tidak diungkapkan lewat kata-kata. Rasa empati di tataran yang paling tinggi adalah menghayati masalah-masalah atau kebutuhan-kebutuhan yang tersirat dibalik perasaan seseorang. Empati merupakan keterampilan dasar untuk semua kecakapan sosial yang penting untuk bekerja.
27
Kecakapan-kecakapan ini meliputi.
a. Memahami orang lain: mengindra perasaan dan perspektif orang lain, dan menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan mereka.
b. Orientasi pelayanan: mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan.
c. Mengembangkan orang lain: mengindra kebutuhan orang lain untuk berkembang dan meningkatkan kemampuan mereka.
d. Mengatasi keragaman: menumbuhkan peluang melalui pergaulan dengan bermacam-macam orang.
e. Kesadaran politis: mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.
5. Membina Hubungan Dengan Orang Lain
Keterampilan sosial merupakan aspek penting dalam Emosional Intelligence. Keterampilan sosial bisa diperoleh dengan banyak berlatih. Salah satu kunci keterampilan sosial adalah seberapa baik atau buruk seseorang mengungkapkan perasaannya sendiri. Oleh sebab itu, untuk dapat menguasai keterampilan untuk berhubungan dengan orang lain (keterampilan sosial) dibutuhkan kematangan dua ketrampilan emosional yang lain, yaitu pengendalian diri dan empati. Goleman (2003) menyatakan bahwa seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan, seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial. Keterampilan sosial intinya adalah seni menangani emosi orang lain merupakan dasar bagi beberapa kecakapan, yaitu antara lain.
28
a. Pengaruh: menerapkan taktik persuasi secara efektif.
b. Komunikasi: mengirimkan pesan secara jelas dan menyakinkan.
c. Manajemen konflik: merundingkan dan menyelesaikan perbedaan pendapat.
d. Kepemimpinan: menjadi pemandu dan sumber ilham.
e. Katalisator perubahan: mengawali, mendorong, atau mengelola perubahan.
f. Membangun ikatan: menumbuhkan hubungan yang instrumental.
g. Kolaborasi dan kooperasi: bekerja sama dengan orang lain menuju sasaran bersama.
h. Kemampuan tim: menciptakan sinergi dalam kerja sama meraih sasaran kelompok.
2.2.1.4 Peran Kecerdasan Emosional
Menurut Goleman (2003:405) peranan EQ membentuk kembali peran sekolah adalah dengan membangun budaya yang membuat sekolah menjadi komunitas yang peduli, tempat murid merasa dihargai, diperhatikan dan memiliki ikatan dengan teman, guru dan sekolah itu sendiri. Keterampilan emosional akan memperbaiki nilai akademis dan kinerja sekolah anak, keterampilan emosional memperhebat kemampuan sekolah anak dan keterampilan emosional memperhebat kemampuan sekolah untuk mengajar.
Petter dan Berkowith (2003) dalam Agustian (2005:240) menyatakan bahwa anak-anak anti sosial (mempunyai tingkat EQ rendah) cenderung mempunyai kesulitan di sekolah. Hal ini dibuktikan dengan penemuan sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak yang melanggar hukum juga
29
cenderung berprestasi buruk dan dia berkeyakinan bahwa kecenderungan itu disebabkan paling tidak sebagian karena kepribadiannya yang tidak mendukung karena impulsive dan kurang terkontrol sehingga mereka cenderung gelisah dan mudah menyimpang. Mereka tidak memberikan perhatian pada guru dan tugas yang dihadapinya dan seringkali tidak dapat menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Untuk memperkuat pernyataan di atas banyak pendapat para ahli yang menyatakan bahwa adanya pengaruh antara kecerdasan emosional (EQ) terhadap prestasi belajar.
Menurut Goleman (2003:70) ternyata kecerdasan emosional mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap prestasi siswa. Setelah anak-anak bermasalah dan cenderung agresif diberikan pengajaran dan pelatihan tentang kecerdasan emosi mereka menjadi anak yang tenang dan mengalami peningkatan prestasi di sekolah. Hal ini merupakan sebuah penemuan yang mampu mendobrak pendapat yang selama ini mengungkapkan bahwa kecerdasan emosi tidak ada pengaruh terhadap prestasi belajar siswa di sekolah. Berdasarkan teori yang ada kecerdasan emosional sangat berpengaruh terhadap kesuksesan hidup seseorang bila dibandingkan dengan kecerdasan inteligensi yang hanya menyumbang sebanyak 20% dari kesuksesan hidup seseorang.
Berdasarkan pendapat dan teori di atas dapat disimpulkan bahwa Kecerdasan Emosional (EQ) mempunyai pengaruh yang besar dalam mencapi kesuksesan hidup seseorang dalam hal sukses mencapai prestasi belajar. Keterampilan emosional (EQ) bukanlah lawan dari keterampilan intelektual. Namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun dunia nyata. Perbedaan yang paling mendasar antara (IQ) dan (EQ)
30
adalah (EQ) tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan sehingga membuka kesempatan bagi orang tua dan para pendidik untuk melanjutkan apa yang disediakan oleh alam agar anak mempunyai peluang lebih besar untuk meraih kesuksesan.
2.2.2. Kecerdasan Spiritual (SQ)
Perkembangan emosional akan berkembang baik jika didukung juga oleh spiritual. Siswa akan mempunyai kecerdasan emosional tinggi kalau didukung dan didorong oleh kemampuan kecerdasan spiritual yang tinggi pula. Hal ini dapat ditumbuh kembangkan oleh guru dengan mengajarkan pendidikan moral melalui teladan yang baik kepada siswa. Kecerdasan spiritual ditemukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall pada pertengahan tahun 2000. Zohar dan Marshall (2004) menegaskan bahwa kecerdasan spiritual adalah landasan untuk membangun IQ dan EQ.
2.2.2.1 Pengertian Kecerdasan Spiritual (SQ)
Spiritual berasal dari bahasa Latin spiritus yang berarti prinsip yang memvitalisasi suatu organisme, sedangkan spiritual dalam SQ berasal dari bahasa Latin sapientia (sophia) dalam bahasa Yunani yang berati ‟kearifan‟ (Zohar dan Marshall, 2004:05). Zohar dan Marshall (2004) menjelaskan bahwa spiritualitas tidak harus dikaitkan dengan kedekatan seseorang dengan aspek ketuhanan, sebab seorang humanis atau atheis pun dapat memiliki spiritualitas tinggi. Kecerdasan spiritual lebih berkaitan dengan pencerahan jiwa. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi mampu memaknai hidup dengan memberi makna
31
positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Adanya makna yang positif akan mampu membangkitkan jiwa dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
Agustian (2005:83) mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya dan memiliki pola pemikiran integralistik, serta berprinsip hanya karena Allah.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa definisi kecerdasan spiritual adalah kemampuan potensial setiap manusia yang menjadikan seseorang dapat menyadari dan menentukan makna, nilai, moral, serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dan sesama makhluk hidup karena merasa sebagai bagian dari keseluruhan, sehingga membuat manusia dapat menempatkan diri dan hidup lebih positif dengan penuh kebijaksanaan, kedamaian, dan kebahagiaan yang hakiki. Prinsip-prinsip kecerdasan spiritual menurut Agustian (2005) yaitu.
a. Prinsip Bintang
Prinsip bintang adalah prinsip yang berdasarkan iman kepada Allah. Semua tindakan yang dilakukan hanya untuk Allah dan tidak mengharap pamrih dari orang lain dan melakukannya sendiri.
b. Prinsip Malaikat (Kepercayaan)
Prinsip malaikat adalah prinsip berdasarkan iman kepada Malaikat. Semua tugas dilakukan dengan disiplin dan baik sesuai dengan sifat malaikat yang dipercaya oleh Allah untuk menjalankan segala perintah Tuhan.
32
c. Prinsip Kepemimpinan
Prinsip kepemimpinan adalah prinsip berdasarkan iman kepada Rasullullah SAW. Seorang pemimpin harus memiliki prinsip yang teguh, agar mampu menjadi pemimpin yang sejati. Seperti Rasullullah SAW adalah seorang pemimpin sejati yang dihormati oleh semua orang.
d. Prinsip Pembelajaran
Prinsip pembelajaran adalah prinsip berdasarkan iman kepada kitab. Suka membaca dan belajar untuk menambah pengetahuan dan mencari kebenaran yang hakiki. Berpikir kritis terhadap segala hal dan menjadikan kitab sebagai pedoman dalam bertindak.
e. Prinsip Masa Depan
Prinsip masa depan adalah prinsip yang berdasarkan iman kepada ”hari akhir”. Berorientasi terhadap tujuan, baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang, disertai keyakinan akan adanya ”hari akhir” dimana setiap individu akan mendapat balasan terhadap setiap tindakan yang dilakukan.
f. Prinsip Keteraturan
Prinsip keteraturan merupakan prinsip berdasarkan iman kepada ”ketentuan Tuhan”. Membuat semuanya serba teratur dengan menyusun rencana atau tujuan secara jelas. Melaksanakan dengan disiplin karena kesadaran sendiri, bukan karena orang lain.
Ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan spiritual berdasarkan teori Zohar dan Marshall (2004) yaitu.
33
a. Memiliki Kesadaran Diri
Memiliki kesadaran diri yaitu adanya tingkat kesadaran yang tinggi dan mendalam sehingga bisa menyadari berbagai situasi yang datang dan menanggapinya.
b. Memiliki Visi
Memiliki visi yaitu memiliki pemahaman tentang tujuan hidup dan memiliki kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
c. Bersikap Fleksibel
Bersikap fleksibel yaitu mampu menyesuaikan diri secara spontan dan aktif untuk mencapai hasil yang baik, memiliki pandangan yang pragmatis (sesuai kegunaan), dan efisien tentang realitas.
d. Berpandangan Holistik
Berpandangan holistik yaitu melihat bahwa diri sendiri dan orang lain saling terkait dan bisa melihat keterkaitan antara berbagai hal, dapat memandang kehidupan yang lebih besar sehingga mampu menghadapi dan memanfaatkan, melampaui kesengsaraan dan rasa sehat, serta memandangnya sebagai suatu visi dan mencari makna dibaliknya.
e. Melakukan Perubahan
Melakukan perubahan yaitu terbuka terhadap perbedaan, memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi dan status quo dan juga menjadi orang yang bebas merdeka.
f. Sumber Inspirasi
Sumber inspirasi yaitu mampu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain dan memiliki gagasan-gagasan yang segar.
34
g. Refleksi Diri
Refleksi diri yaitu memiliki kecenderungan apakah yang mendasar dan pokok.
2.2.2.2 Peran Kecerdasan Spiritual (SQ) Terhadap Prestasi Belajar
Kehidupan masyarakat modern kecerdasan spiritual secara kolektif adalah rendah, sering dijumpai materialisme berlebihan, ketergesaan, egoisme diri yang sempit, kehilangan makna dan komitmen. Ketika seseorang atau siswa dengan kemampuan IQ dan EQ nya berhasil mencapai kesuksesan, seringkali ia dilanda perasaan kosong dan hampa dalam celah batin kehidupannya. Ketika harapan akan kesuksesan telah diraih, ia tidak tahu lagi kemana harus melangkah, untuk tujuan apa semua itu diraih yang hampir-hampir diperbudak oleh materialisme dan waktu, tanpa mengerti dimana ia harus berpijak.
Menurut Marshall (2004:3) anak yang bersemangat dan kreatif dapat menguras tenaga kita dengan banyaknya angan-angan, hasrat dan energi mereka yang terfokus, dalam keadaan apapun tekad yang tajam itu adalah mencari kesatuan yang bersifat spiritual. Banyak anak yang berjiwa dewasa dan bijaksana dengan fisik yang masih kecil merupakan suatu fakta yang senantiasa diamati oleh orang tua dan diakui sejak abad kesebelasan. Zaman sekarang dikatakan sebagai anak Indigo. Orang yang cerdas secara spiritual biasanya mudah mengikuti kursus-kursus penempatan yang lebih sulit. Mereka memperoleh nila-nilai tinggi dan tentu saja mereka dapat mempunyai kreatifitas yang tinggi.
35
2.2.3. Minat Belajar
2.2.3.1 Pengertian Minat Belajar
Untuk dapat melihat keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar, seluruh faktor-fakor yang berhubungan dengan guru dan murid harus dapat diperhatikan. Mulai dari perilaku guru dalam mengajar sampai dengan tingkah laku siswa sebagai timbal balik dari hasil sebuah pengajaran.
Tingkah laku siswa ketika mengikuti proses belajar mengajar dapat mengindikasikan akan ketertarikan siswa tersebut terhadap pelajaran itu atau sebaliknya, ia merasa tidak tertarik dengan pelajaran tersebut. Ketertarikan siswa inilah yang merupakan salah satu tanda-tanda minat. Lebih lanjut terdapat beberapa pengertian minat diantaranya menurut Alisuf Sabri (2005:84) Minat adalah kecenderungan untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus, minat ini erat kaitannya dengan perasaan senang.
Menurut Muhibbin (2008:136) Minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
Menurut Ahmad D. Marimba (2009:79) Minat adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu, karena kita merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu, pada umumnya disertai dengan perasaan senang akan sesuatu itu.
Menurut Mahfudh Shalahuddin (2006:95) Minat adalah perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan. Oleh karena itu minat sangat menentukan sikap yang menyebabkan seseorang aktif dalam suatu pekerjaan, atau dengan kata lain, minat dapat menjadi sebab dari suatu kegiatan.
Menurut Crow dan Abror (2009:112) bahwa minat atau interest bisa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita untuk cenderung atau
36
merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan, ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.
Berdasarkan keempat pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa minat akan timbul apabila mendapatkan rangsangan dari luar dan kecenderungan untuk merasa tertarik pada suatu bidang bersifat menetap dan merasakan perasaan yang senang apabila ia terlibat aktif di dalamnya. Perasaan senang ini timbul dari lingkungan atau berasal dari objek yang menarik. Berdasarkan penjelasan ini, apabila seorang guru ingin berhasil dalam melakukan kegiatan belajar mengajar harus dapat memberikan rangsangan kepada murid agar ia berminat dalam mengikuti proses belajar mengajar tersebut. Apabila murid sudah merasa berminat mengikuti pelajaran, maka ia akan dapat mengerti dengan mudah dan sebaliknya apabila murid merasakan tidak berminat dalam melakukan proses pembelajaran ia akan merasa tersiksa mengikuti pelajaran tersebut.
2.2.3.2 Aspek-aspek Minat Belajar
Seperti yang telah dikemukakan bahwa minat dapat diartikan sebagai suatu ketertarikan terhadap suatu objek yang kemudian mendorong individu untuk mempelajari dan menekuni segala hal yang berkaitan dengan minatnya tersebut. Minat yang diperoleh melalui adanya suatu proses belajar dikembangkan melalui proses menilai suatu objek yang kemudian menghasilkan suatu penilaian, penilaian tertentu terhadap objek yang menimbulkan minat seseorang.
Penilaian-penilaian terhadap objek yang diperoleh melalui proses belajar itulah yang kemudian menghasilkan suatu keputusan mengenal adanya ketertarikan atau ketidaktertarikan seseorang terhadap objek yang dihadapinya.
37
Hurlock (2007:442) mengatakan minat merupakan hasil dari pengalaman atau proses belajar. Lebih jauh ia mengemukakan bahwa minat memiliki dua aspek yaitu.
1. Aspek kognitif
Aspek ini didasarkan atas konsep yang dikembangkan seseorang mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. Konsep yang membangun aspek kognitif didasarkan atas pengalaman dan apa yang dipelajari dari lingkungan.
2. Aspek afektif
Aspek afektif ini adalah konsep yang membangun konsep kognitif dan dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan atau objek yang menimbulkan minat. Aspek ini mempunyai peranan yang besar dalam memotivasikan tindakan seseorang.
Berdasarkan uraian tersebut, maka minat terhadap mata pelajaran kewirausahaan yang dimiliki seseorang bukan bawaan sejak lahir, tetapi dipelajari melalui proses penilaian kognitif dan penilaian afektif seseorang yang dinyatakan dalam sikap, dengan kata lain jika proses penilaian kognitif dan afektif seseorang terhadap objek minat adalah positif maka akan menghasilkan sikap yang positif dan dapat menimbulkan minat.
2.2.3.3 Indikator Minat Belajar
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk/keterangan. Kaitannya dengan minat siswa maka indikator adalah sebagai alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk ke arah minat. Ada beberapa indikator siswa yang memiliki minat
38
belajar yang tinggi hal ini dapat dikenali melalui proses belajar di kelas maupun di rumah.
1. Perasaan Senang
Seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap pelajaran kewirausahaan misalnya, maka ia harus terus mempelajari ilmu yang berhubungan dengan kewirausahaan. Sama sekali tidak ada perasaan terpaksa untuk mempelajari bidang tersebut.
2. Perhatian dalam Belajar
Adanya perhatian juga menjadi salah satu indikator minat. Perhatian merupakan konsentrasi atau aktifitas jiwa kita terhadap pengamatan, pengertian, dan sebagainya dengan mengesampingkan yang lain dari pada itu. Seseorang yang memiliki minat pada objek tertentu maka dengan sendirinya dia akan memperhatikan objek tersebut. Misalnya, seorang siswa menaruh minat terhadap pelajaran kewirausahaan, maka ia berusaha untuk memperhatikan penjelasan dari gurunya.
3. Bahan Pelajaran dan Sikap Guru yang Menarik
Tidak semua siswa menyukai suatu bidang studi pelajaran karena faktor minatnya sendiri. Ada yang mengembangkan minatnya terhadap bidang pelajaran tersebut karena pengaruh dari gurunya, teman sekelas, bahan pelajaran yang menarik. Walaupun demikian lama-kelamaan jika siswa mampu mengembangkan minatnya yang kuat terhadap mata pelajaran niscaya ia bisa memperoleh prestasi yang berhasil sekalipun ia tergolong siswa yang berkemampuan rata-rata.
39
Sebagaimana dikemukakan oleh Brown yang dikutip oleh Ali Imran (2011:19) sebagai berikut.
“Tertarik kepada guru, artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh, tertarik kepada mata pelajaran yang diajarkan, mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya terutama kepada guru, ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas, ingin identitas dirinya diketahui oleh orang lain, tindakan kebiasaan dan moralnya selalu dalam control diri, selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali, dan selalu terkontrol oleh lingkungannya”
4. Manfaat dan Fungsi Mata Pelajaran
Selain adanya perasaan senang, perhatian dalam belajar dan juga bahan pelajaran serta sikap guru yang menarik. Adanya manfaat dan fungsi pelajaran (dalam hal ini pelajaran kewirausahaan) juga merupakan salah satu indikator minat. Setiap pelajaran mempunyai manfaat dan fungsinya, misalnya pelajaran kewirausahaan banyak memberikan manfaat kepada siswa untuk bisa memahami suatu bisnis atau pun mendirikan suatu usaha baik skala kecil maupun besar dengan melihat peluang yang ada di sekitar.
2.2.3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar
Salah satu pendorong dalam keberhasilan belajar adalah minat terutama minat yang tinggi. Minat itu tidak muncul dengan sendirinya akan tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhi munculnya minat.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi minat belajar siswa antara lain.
1. Motivasi
Minat seseorang akan semakin tinggi bila disertai motivasi, baik yang bersifat internal ataupun eksternal. Menurut D.P. Tampubolon (2006:41) minat merupakan perpaduan antara keinginan dan kemampuan yang dapat berkembang jika ada motivasi, seorang siswa yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan
40
tentang tafsir misalnya, tentu akan terarah minatnya untuk membaca buku-buku tentang tafsir, mendiskusikannya, dan sebagainya.
2. Belajar
Minat dapat diperoleh melalui belajar, karena dengan belajar siswa yang semula tidak menyenangi suatu pelajaran tertentu, lama-kelamaan lantaran bertambahnya pengetahuan mengenai pelajaran tersebut, minat pun tumbuh sehingga ia akan lebih giat lagi mempelajari pelajaran tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapatnya Singgih D. Gunarsa dan Ny. Singgih D.G (2006:68) bahwa minat akan timbul dari sesuatu yang diketahui dan kita dapat mengetahui sesuatu dengan belajar, karena itu semakin banyak belajar semakin luas pula bidang minat
3. Bahan Pelajaran dan Sikap Guru
Faktor yang dapat membangkitkan dan merangsang minat adalah faktor bahan pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, akan sering dipelajari oleh siswa yang bersangkutan dan sebaliknya bahan pelajaran yang tidak menarik minat siswa tentu akan dikesampingkan oleh siswa, sebagaimana telah disinyalir oleh Slameto (2004:187) bahwa minat mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.
Guru juga salah satu obyek yang dapat merangsang dan membangkitkan minat belajar siswa. Menurut Kurt Singer (2007:93) bahwa”guru yang berhasil membina kesediaan belajar murid-muridnya” berarti telah melakukan hal-hal yang terpenting yang dapat dilakukan demi kepentingan murid-muridnya.
41
Guru yang pandai, baik, ramah, disiplin, serta disenangi murid sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan minat murid sebaliknya guru yang memiliki sikap buruk dan tidak disukai oleh murid, akan sukar dapat merangsang timbulnya minat dan perhatian murid.
Bentuk-bentuk kepribadian gurulah yang dapat mempengaruhi timbulnya minat siswa. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar guru harus peka terhadap situasi kelas. Ia harus mengetahui dan memperhatikan akan metode-metode mengajar yang cocok dan sesuai dengan tingkatan kecerdasan para siswanya, artinya guru harus memahami kebutuhan dan perkembangan jiwa siswanya.
4. Keluarga
Orang tua adalah orang yang terdekat dalam keluarga, oleh karenanya keluarga sangat berpengaruh dalam menentukan minat seorang siswa terhadap pelajaran. Apa yang diberikan oleh keluarga sangat berpengaruhnya bagi perkembangan jiwa anak. Proses perkembangan minat diperlukan dukungan perhatian dan bimbingan dari keluarga khususnya orang tua.
5. Teman Pergaulan
Melalui pergaulan seseorang akan dapat terpengaruh arah minatnya oleh teman-temannya, khususnya teman akrabnya. Khusus bagi remaja, pengaruh teman ini sangat besar karena dalam pergaulan itulah mereka memupuk pribadi dan melakukan aktifitas bersama sama untuk mengurangi ketegangan dan kegoncangan yang mereka alami.
42
6. Lingkungan
Melalui pergaulan seseorang akan terpengaruh minatnya. Hal ini ditegaskan oleh pendapat yang dikemukakan oleh Crow (2006:352) bahwa minat dapat diperoleh dari kemudian sebagai dari pengalaman mereka dari lingkungan dimana mereka tinggal.
Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat bergaul, juga tempat bermain sehari-hari dengan keadaan alam dan iklimnya, flora serta faunanya
Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung kepada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya.
7. Cita-cita
Setiap manusia memiliki cita-cita di dalam hidupnya, termasuk para siswa. Cita-cita juga mempengaruhi minat belajar siswa, bahkan cita-cita juga dapat dikatakan sebagai perwujudan dari minat seseorang dalam prospek kehidupan dimasa yang akan datang. Cita-cita ini senantiasa dikejar dan diperjuangkan, bahkan tidak jarang meskipun mendapat rintangan, seseorang tetap berusaha untuk mencapainya.
8. Bakat
Melalui bakat seseorang akan memiliki minat. Ini dapat dibuktikan dengan contoh: bila seseorang sejak kecil memiliki bakat menyanyi, secara tidak langsung ia akan memiliki minat dalam hal menyanyi. Jika ia dipaksakan untuk menyukai sesuatu yang lain, kemungkinan ia akan membencinya atau merupakan
43
suatu beban bagi dirinya. Oleh karena itu, dalam memberikan pilihan baik sekolah maupun aktivitas lainnya sebaiknya disesuaikan dengan bakat dimiliki.
9. Hobi
Bagi setiap orang hobi merupakan salah satu hal yang menyebabkan timbulnya minat. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki hobi terhadap matematika maka secara tidak langsung dalam dirinya timbul minat untuk menekuni ilmu matematika, begitupun dengan hobi yang lainnya dimana faktor hobi tidak bisa dipisahkan dari faktor minat.
10. Media Massa
Apa yang ditampilkan di media massa, baik media cetak atau pun media elektronik, dapat menarik dan merangsang khalayak untuk memperhatikan dan menirunya. Pengaruh tersebut menyangkut istilah, gaya hidup, nilai-nilai, dan juga perilaku sehari-hari. Minat khalayak dapat terarah pada apa yang dilihat, didengar, atau diperoleh dari media massa.
11. Fasilitas
Berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana, baik yang berada di rumah, di sekolah, dan di masyarakat memberikan pengaruh yang positif dan negatif. Sebagai contoh, bila fasilitas yang mendukung upaya pendidikan lengkap tersedia, maka timbul minat anak untuk menambah wawasannya, tetapi apabila fasilitas yang ada justru mengikis minat pendidikannya, seperti merebaknya tempat-tempat hiburan yang ada di kota-kota besar, tentu hal ini berdampak negatif bagi pertumbuhan minat tersebut.
44
2.2.4. Belajar
2.2.4.1 Pengertian Belajar
Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Pengertian belajar menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut.
a) Belajar menurut pandangan Skinner (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006:9) Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Seseorang belajar maka responsnya menjadi lebih baik, sebaliknya bila ia tidak belajar maka responsnya menurun.
b) Belajar menurut Gagne (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006:10)
Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (1) stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan (2) proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar, dengan demikian belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi, lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru.
c) Belajar menurut pandangan Piaget (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006:13) Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab
45
individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan, dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.
d) Menurut Slameto (2004:21) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
e) Belajar menurut Djamarah dan Zain (2002:11) adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan perilaku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi.
Berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud belajar adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan hasil belajar yang dilakukan melalui interaksi terus menerus dengan lingkungannya untuk mengembangkan kemampuan inteleknya. Perubahan tingkah laku tersebut untuk memperoleh tujuan pendidikan, dan didapat hal-hal sebagai berikut.
1. Belajar itu membawa perubahan.
2. Perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun non fisik seperti perubahan dalam berfikir, keterampilan, kebiasaan atau sikap.
3. Perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja).
46
4. Perubahan yang diperoleh bersifat menetap.
2.2.4.2 Ciri-Ciri Belajar
Menurut Wiliam dalam Hamalik (2009:31) bahwa ciri-ciri belajar adalah sebagai berikut.
a. Proses belajar adalah pengalaman, berbuat, mereaksi dan melampaui.
b. Proses ini melalui bermacam-macam ragam pengalaman dan mata pelajaran yang berpusat pada suatu tujuan tertentu.
c. Pengalaman belajar secara maksimal bermakna bagi kehidupan murid.
d. Pengalaman belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan murid sendiri yang mendorong motivasi yang kontinyu.
e. Proses belajar dan hasil belajar disyarati oleh hereditas dan lingkungan.
f. Proses belajar dan hasil usaha belajar secara materiil dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan individual dikalangan murid-murid.
g. Proses belajar berlangsung secara efektif apabila pengalaman dan hasil yang diinginkan sesuai dengan kematangan siswa.
h. Proses belajar yang terbaik apabila murid mengetahui status dan kemajuan.
i. Proses belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai prosedur.
j. Hasil-hasil belajar secara fungsional bertalian satu sama yang lain, tetapi dapat didiskusikan secara terpisah.
2.2.4.3 Prinsip-Prinsip Belajar
Prinsip-prinsip belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:42) adalah sebagai berikut.
47
a. Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhan. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut.
b. Keaktifan
Setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh dari kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.
c. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Belajar haruslah dilakukan siswa sendiri oleh siswa, belajar adalah mengalami, belajar tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Proses belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggungjawab terhadap hasilnya.
d. Pengulangan
Menurut teori daya belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal,
48
merasakan, berfikir, dan sebagainya dengan mengadakan pengulangan daya-daya tersebut akan berkembang. Proses belajar masih tetap diperlukan latihan/ pengulangan. Metode drill adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan.
e. Tantangan
Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mengatasinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi akan meyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, generalisasi tersebut. Bahan belajar yang telah diolah secara tuntas oleh guru sehingga siswa tinggal menelan saja kurang menarik bagi siswa.
f. Balikan dan Penguatan
Prinsipnya belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditoning dari B.F Skinner yang lebih memperkuat responsnya. Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan Operant Conditioning atau penguatan positif, sebaliknya anak yang mendapatkan nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong untuk belajar lebih giat, di sini nilai buruk dan rasa takut tidak naik kelas juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif.
49
g. Perbedaan Individual
Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya. Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa, karenanya perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
2.2.5. Hakikat Prestasi Belajar
2.2.5.1 Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi pada dasarnya adalah hasil yang diperoleh dari suatu aktivitas sedangkan belajar pada dasarnya adalah proses yang mengakibatkan perubahan diri individu, yakni perubahan tingkah laku, dengan demikian prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Menurut Kamus istilah sosiologi (2006) ”prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran. Lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru.
Menurut Hamalik (2009:121) bahwa prestasi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu tingkah laku yang baru
50
secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
2.2.5.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Faktor yang dicapai oleh seseorang individu merupakan hasil dari proses yang di dalamnya terdapat interaksi dari berbagai faktor yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhinya, baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal), dalam jangka waktu tertentu tinggi rendahnya prestasi belajar berlangsung kepada faktor-faktor tersebut. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Hamalik (2009:127) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa adalah sebagai berikut.
1) Faktor Internal (dalam diri)
a. Faktor jasmani (fisiologi) baik dari yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh, dan sebagainya.
b. Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, terdiri atas.
 Faktor intelektif yang meliputi faktor personal, yaitu: kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan, yaitu prestasi yang dimiliki
 Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, dan penyesuaian diri.
2) Faktor Eksternal (luar diri).
a. Lingkungan keluarga
51
b. Lingkungan sekolah
c. Lingkungan masyarakat
d. Lingkungan kelompok
e. Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian
f. Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, dan iklim
g. Faktor lingkungan spiritual keagamaan.
2.2.5.3 Pentingnya Prestasi Belajar
Semua kegiatan belajar mengajar pada dasarnya adalah berusaha untuk mencapai prestasi yang terbaik. Prestasi belajar merupakan tujuan atau sasaran yang menjadi muara kegiatan belajar mengajar. Bagi seorang siswa yang telah melaksanakan kegiatan belajar mengajar, prestasi merupakan gambaran dari apa yang bisa dicapainya melalui kegiatan yang telah dilaksanakannya.
Prestasi belajar juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber motivasi bagi seorang siswa. Bagi anak yang prestasinya masih rendah, hal ini akan menjadi cambuk bagi anak tersebut untuk meningkatkan prestasinya. Bagi anak yang telah memiliki prestasi belajar yang tinggi akan muncul motivasi untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan apa yang telah dicapainya.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa prestasi belajar merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya dan bagi anak didik pada umumnya.
52
2.2.6 Kewirausahaan.
2.2.6.1 Pengertian kewirausahaan
Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis, entre berarti „antara‟ dan prendre berarti „mengambil‟. Istilah ini menggambarkan orang-orang yang menciptakan usaha baru dengan menghadapi ketidakpastian dan resiko dengan maksud untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan usaha melalui pengidentifikasian peluang yang signifikan dan penggunaan sumber daya yang diperlukan.
Menurut Suryana (2003:2) istilah kewirausahaan (entrepreneurship) dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa kata yang sering diartikan sama, diantaranya adalah wiraswasta, pengusaha, pedagang, saudagar, dan wirausaha.
Wiraswasta adalah orang yang memiliki sifat-sifat keberanian, keutaman, keteladanan, dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri. Wirausaha adalah orang yang kreatif dan inovatif serta mampu mewujudkannya untuk peningkatan kesejahteraan diri, masyarakat, dan lingkungannya
Menurut Prawirokusumo (1997) dalam Suryana (2003:8) pendidikan kewirausahaan telah diajarkan sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang independen, yang dimaksud disiplin ilmu tersendiri yang independen karena;
1. Kewirausahaan berisi body of knowledge yang utuh dan nyata.
2. Kewirausahaan memiliki dua konsep, yaitu venture start up dan venture growth.
53
3. Kewirausahaan merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
4. Kewirausahaan merupakan alat untuk menciptakan pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan.
Menurut Suryana (2003:7). Ilmu kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya.
Menurut Zimmerer (1996) dalam Suryana (2003:11) kewirausahaan dalam konteks bisnis adalah hasil dari suatu disiplin, proses sistematis penerapan kreativitas dan inovasi dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar.
2.3. Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir dalam penelitian ini adalah:
Gambar 2.3. Paradikma Penelitian
Keterangan:
X1 : kecerdasan emosional (EQ), : pengaruh secara parsial
X2 : kecerdasan spiritual (SQ), : pengaruh secara simultan
X1
X2
Y
X3
54
X3 : minat belajar
Y : prestasi belajar siswa
Paradikma ini untuk mencari pengaruh kecerdasan emosional (EQ)/(X1) terhadap Prestasi belajar siswa (Y), untuk mengetahui pengaruh kecerdasan spiritual (SQ)/(X2) terhadap prestasi belajar siswa (Y), untuk mengatahui pengaruh minat belajar (X3) terhadap prestasi belajar siswa (Y), untuk mengetahui kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan minat belajar terhadap prestasi siswa dengan menggunakan Analisis Regresi Berganda.
2.3.1 Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Belajar
Kecerdasan Emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki oleh seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi, dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa (Goleman, 2003:139). Kemampuan ini saling berbeda dan saling melengkapi dengan kemampuan akademik murni yang diukur dengan IQ. Kecerdasan emosional yang baik dapat dilihat dari kemampuan mengenal diri sendiri, mengendalikan diri, memotivasi diri, berempati, dan kemampuan sosial. Oleh karena itu siswa yang memiliki keterampilan emosi yang baik akan berhasil di dalam kehidupan dan memiliki motivasi untuk terus belajar, sedangkan siswa yang memiliki keterampilan emosi yang kurang baik, akan kurang memiliki motivasi untuk belajar, sehingga dapat merusak kemampuan untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugas individu tersebut sebagai siswa.
55
2.3.2 Hubungan antara Kecerdasan Spiritual dengan Prestasi Belajar
Kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahakan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup seseorang dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (Zohar dan Marshall, 2004:103). Kecerdasan spiritual adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Kecerdasan spiritual yang baik dapat dilihat dari ketuhanan, kepercayaan, kepemimpinan pembelajaran, berorientasi pada masa depan, dan keteraturan. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi akan memotivasi siswa untuk lebih giat belajar karena siswa yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga memiliki motivasi untuk selalu belajar dan memiliki kreativitas yang tinggi pula. Begitu pula sebaliknya, siswa dengan kecerdasan spiritual yang rendah akan kurang termotivasi dalam belajar, tidak memiliki keyakinan yang tinggi dan prestasi belajar pun menjadi kurang.
2.3.3 Hubungan antara Minat Belajar dengan Prestasi belajar Siswa
Jika dikaitkan dengan prestasi belajar siswa, minat belajar merupakan salah satu alat motivasi atau alasan bagi siswa untuk melakukan hal-hal yang positif, meyadari pentingnya atau bernilainya hal yang ia pelajari. Tanpa adanya minat dalam sisi siswa terhadap hal yang akan dipelajari, maka ia akan ragu-ragu untuk belajar sehingga tidak menghasilkan hasil belajar yang optimal atau seperti yang diharapkan.
56
2.3.4 Hubungan antara Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual dan Minat Belajar Terhadap Prestasi Siswa.
Tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal jika siswa memiliki sikap dan perilaku yang baik yang berkaitan dengan kemampuan menghadapi masalah, semangat dalah memecahkan persoalan “ makna dan nilai “ memiliki ketenangan batin, bersikap fleksibel, rasa tanggungjawab serta diimbangi dengan adanya spiritual yang tinggi. Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang.
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dihafalkan dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar.
Minat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi belajar dan hasilnya maka minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang tertentu. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah, apabila seorang siswa mempunyai minat yang besar terhadap suatu bidang studi ia akan memusatkan perhatian lebih banyak dari temannya, kemudian karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang tinggi dalam bidang studi tersebut. Oleh karenanya dapat
57
dikatakan bahwa kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dan minat belajar mempunyai hubungan dengan prestasi siswa.
2.4 Hipotesis penelitian
Menurut Sugiyono (2010:96) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, maka diajukan penelitian sebagai berikut.
H01 : Diduga tidak ada pengaruh yang signifikan antara Kecerdasan Emosional (EQ) terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X di SMK PGRI 6 Malang.
Ha1 : Diduga ada pengaruh yang signifikan antara Kecerdasan Emosional (EQ) terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X di SMK PGRI 6 Malang.
H02 : Diduga tidak ada pengaruh yang signifikan antara Kecerdasan Spiritual (SQ) terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X di SMK PGRI 6 Malang.
Ha2 : Diduga ada pengaruh yang signifikan antara Kecerdasan Spiritual (SQ) terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X di SMK PGRI 6 Malang.
H03 : Diduga tidak ada pengaruh yang signifikan antara Minat Belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X di SMK PGRI 6 Malang.
58
Ha3 : Diduga ada pengaruh yang signifikan antara Minat Belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X di SMK PGRI 6 Malang.
H04 : Diduga tidak ada pengaruh yang signifikan antara Kecerdasan Emosional (EQ), Kecerdasan Spiritual (SQ), dan Minat Belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X di SMK PGRI 6 Malang.
Ha4 : Diduga ada pengaruh yang signifikan antara Kecerdasan Emosional (EQ), Kecerdasan Spiritual (SQ), dan Minat Belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X di SMK PGRI 6 Malang.

1 komentar:

  1. aku ambil dsni aja bang....
    thx u.. :D

    1 yang kurang dapusnya... hehehe

    BalasHapus