84
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum SMK PGRI 6 Malang
SMK PGRI 6 Malang adalah Sekolah Menengah Kejurunan kelompok Bisnis dan Manajemen serta Tehnologi Rekayasa yang dirintis pendirinya pada awal tahun 1992. SMK PGRI 6 Malang dahulu bernama SMEA PGRI 02 Malang berdiri pada tanggal 16 Juli 1993 dengan pendiri guru-guru SMK Negeri 1 Malang yang terdiri dari;
1. Drs. Isrok Suharmani selaku ketua;
2. Drs. H. Rodjikin selaku wakil ketua;
3. Dra. Sunarti MM selaku bendahara;
4. Dra. Yvonne E. N. H selaku sekretaris, dan
5. Drs. Haryanto M.Pd selaku anggota.
Setelah mendapatkan tempat untuk belajar mengajar yaitu di SD YWKA jalan Genteng No. 14 Kecamatan Klojen kota Malang, dan kegiatan praktik di SMEA Negeri Malang atas perkenaan bapak Drs. Soejono selaku kepala sekolah pada saat itu, maka ditetapkanlah SMEA PGRI 02 Malang sebagai nama sekolah yang bernaung di bawah YPLP ( Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan) PGRI Provinsi Jawa Timur. Setelah laporan diterima, YPLP menginstruksikan untuk segera membuka pendaftaran siswa baru, dengan ketentuan tiap program keahlian hanya menerima satu kelas. Tanggal 16 Juni 1993 dibuka pendaftaran siswa baru, dengan pendaftaran Rp 3.000,- uang pangkal Rp 25.000,- dan SPP Rp 7.500,-
85
tempat di SMEA Negeri Malang, walaupun saat itu mendapat serangan yang begitu keras dari sekolah swasta lain, namun dengan ridho Allah, telah mendapatkan siswa 152 orang yang dibagi menjadi 3 kelas. Satu kelas program keahlian akuntansi sebanyak 51 siswa, satu kelas program keahlian sekretaris sebanyak 51 siswa dan satu kelas program keahlian perdagangan sebanyak 50 siswa.pada tanggal 19 Juli 1993 kegiatan PMB dimulai di SD YMKA Jalan Genteng 14 Malang. Struktur organisasi SMK PGRI 02 Malang terbentuk, dengan dikepalai oleh Drs. Isrok Suharmami, Drs. Rodjikin sebagai wakil Kepala Sekolah, Dra. Yvonne E. N. H, sebagai waka kurikulum, Dra. Sunarti sebagai bendahara sekolah dan Drs. Haryanto sebagai waka kesiswaan, dengan tenaga TU satu orang yaitu bapak Suryanto, tenaga pesuruh satu orang yaitu Bapak Taslim, tenaga satpam saru orang yaitu Bapak Nono Kumar dan tenaga pengajar 33 orang. Sisa dana 3 juta rupiah dari uang pangkal dipakai untuk sewa gedung SD YWKA Rp 2.250.000,- dan sisanya dibuatkan 2 lemari, 2 buah papan white board dan satu buah mesin ketik. Drs. Isrok Suharmami memberikan pinjaman satu meja tulis, satu kotak obat, dan satu kaca cermin.
Kegiatan PBM berjalan lancar sehingga datang tahun ajaran baru 1994/1995. Tahun 1994 di SMEA Negeri Malang terjadi pergantian pimpinan dari Bapak Drs. Soejono kepada Bapak Drs. Jan Wakib Suhadi, di Dikmenjur juga terjadi pergantian pimpinan dari bapak Diman S Pranoto M. Ed kepada Ir. Edy Suwarni. Bapak Drs. Wakib Suhadi yang akrab mendapat amanah dari bapak Drs. Soejono untuk melindungi SMEA PGRI 2 Malang. Oleh karena itu SMK PGRI 6
86
Malang bisa seperti ini, tidak lepas dari dukungan dan bantuan yang luar biasa, dengan mempertaruhkan jabatan dan penuh resiko yang dalam perkembangannya, SMK PGRI 6 Malang berjalan dengan cepat. Fasilitas yang dimiliki oleh SMK PGR6 Malang antara lain ruang kelas sebanyak 10 ruangan, yang terdiri dari ruang kelas untuk Program Studi Administrasi Perkantoran, Akuntansi, Pemasaran, dan Mekanik Otomotif mulai dari kelas X sampai dengan kelas XII. Laboratorium yang dimiliki SMK PGRI 6 malang sebanyak 6 ruangan yaitu laboratorium komputer 2 ruangan, laboratorium Administrai Perkantoran 1 ruangan, laboratorium Akuntansi 1 ruangan, laboratorium Penjualan 1 ruangan, dan laboratorium Mekanik Otomotif 1 ruangan. Selain memiliki laboratorium yang lengkap, SMK PGRI 6 juga memiliki sarana untuk menambah kemampuan siswa dibidang Life Skill, diantaranya bengkel, pabrik roti serta pabrik kopi bubuk. Jumlah siswa yang dimiliki SMK PGR pada tahun pelajaran 2012/2013 secara keseluruhan sebanyak 508 siswa. Secara rinci nampak seperti tabel di bawah ini. Tabel 4.1 Jumlah siswa SMK PGRI 6 Malang
Kelas
Jumlah Kelas
X
XI
XII
P
L
P
L
P
L
APK
38
6
34
7
32
1
AK
33
5
43
5
39
4
PM
30
6
36
2
35
-
MO1
-
32
-
28
31
MO2
30
-
31
Jumlah
180
186
142
Sumber : Bagian tata usaha SMK PGRI 6 Malang 2012/2013
87
Berdasarkan tabel di atas, jumlah siswa seluruhnya pada tahun pelajaran 2012/2103 adalah 503, sedangkan jumlah guru pengajar berjumlah 69 guru yang terdiri dari guru untuk Program Studi Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Pamasaran, dan Mekanik Otomotif, serta Guru Umum. Tabel 4.2 Guru pengajar SMK PGRI 6 Malang
Program Keahlian
Jumlah guru
Akuntansi
8
Administrasi Perkantoran
6
Pamasaran
6
Mekanik Otomotif
2
Guru Umum
47
Jumlah
69
Sumber : Bagian tata usaha SMK PGRI 6 Malang 2012/2013 4.1.2 Struktur Organisasi SMK PGRI 6 Malang Pengorganisasian SMK PGRI 6 Malang diwujudkan pada struktur organisasi yang didasarkan pada bentuk unit, lini dan staf dimana dalam struktur organisasi ini pimpinan membutuhkan anggota staf yang berfungsi memberi saran atau nasehat kepada pimpinan, dengan bentuk organisasi ini diharapkan terciptanya kelancaran dalam pelaksanaan roda organisasi dengan pengaturan lebih lanjut wewenang dan tanggungjawab serta tata kerja antara satu dengan yang lainnya sehingga tujuan organisasi dapat tercapai dengan efektifitas dan efisien yang tinggi. Adapun struktur organisasi dari SMK PGRI 6 Malang adalah sebagai berikut.
88
Struktur Organisasi SMK PGRI 6 Malang
Garis Komando : Garis Koordinasi : -------------------- Gambar 4.1 Struktur Organisasi SMK PGRI 6 Malang Tahun Pelajaran 2012/2013
Ketua PPLP Perwakilan
Kepala Sekolah
Drs. Bambang Soeyarso, M. Pd
Ketua Komite Sekolah
Ir. Vivit Hakhul Yakin
Ketua Majelis Sekolah
Drs. E. Rachmad
Kepala Tata Usaha
Nurul Qomariah
WMM
Drs. A. Said Fauzi
Waka Bidang Humas dan Sarana
Drs. A. Danuri. M, Pd
Waka Bidang Kesiswaan
Ilham Sholeh S, Pd
Waka Bidang Kurikulum
Drs. Sugeng Iryanto
Bendahara Sekolah
Mudji Rahayu, S.Pd
Kaprog Adm. Perkantoran
Sri Sundari. S, Pd
Kaprog Akuntansi
Anna Rofi’ah
Kaprog Pemasaran
Dewi Gajatri. S, Pd
Kaprog Otomotif Sepeda Motor
Dra. yuningtyas. S, Pd
Wali Kelas
Koordinator BP
Dra. Hj. Sulistyowati
Dewan Guru
Siswa
89
4.1.3 VISI dan MISI SMK RGRI 6 MALANG VISI SMK RGRI 6 MALANG adalah sebagai berikut. Mewujudkan SMK PGRI 6 kota Malang sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan yang dapat menghasilkan tamatan yang beriman dan bertaqwa, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian dan berakhlak mulia sehingga mampu bersaing di tingkat lokal maupun global. MISI SMK PGRI 6 MALANG adalah sebagai berikut.
1. Melaksanakan pendidikan dan pengajaran yang bersifat Normatif yang ditunjang dengan kegiatan Ekstra yang bernuansa agamis dengan membudayakan 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun);
2. Melaksanakan pendidikan dan pengajaran yang bersifat Adaptif untuk membentuk jiwa kewirausahaan yang berpola pikir Aktif, Kratif, Inovatif, Mandiri dan berwawasan teknologi;
3. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan yang bersifat Produktif ditunjang dengan kegiatan Ekstra melalui bimbingan yang intensif dan relevan dengan program keahlian;
4. Melaksanakan Sistem Manajemen Mutu (SMM);
5. Melaksanakan dan mengembangkan kurikulum untuk semua kompetensi keahlian;
6. Melaksanakan program pengembangan sekolah yang berbasis keunggulan lokal;
7. Melaksanakan Praktik Kerja Industri (Prakerin).
90
4.1.4 Deskripsi Data Deskripsi data merupakan bagian yang dapat memberikan gambaran mengenai data yang diperlukan, sehingga akan mempermudah langkah-langkah dalam melakukan analisis. Deskripsi data dalam penelitian ini akan menggambarkan dari masing-masing variabel yang diteliti, yaitu kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, minat belajar dan prestasi siswa kelas X di SMK PGRI 6 Malang. Adapun deskripsi data masing-masing variabel dalam penelitian ini adalah. 4.1.4.1 Kecerdasan Emosional (EQ) Berdasarkan data yang diperoleh dari responden yang berjumlah 45 orang siswa SMK PGRI 6 Malang kelas X (sepuluh), dilakukan analisis mengenai tingkat kecerdasan siswa. Angket yang disebarkan terdapat 20 item soal yang berkaitan dengan tingkat kecerdasan emosional siswa. Adapun rentangan nilai tertinggi adalah 100 dan yang terendah adalah 20, yakni jumlah atau skor dari responden yang menjawab angket dengan pilihan jawaban “Sangat Setuju” sampai dengan “Sangat Tidak Setuju” (5 option jawaban). Setelah diketahui interval maka selanjutnya digunakan untuk menentukan klasifikasi, frekuensi dan persentase tingkat kecerdasan emosional siswa.
Tabel 4.3 menunjukkan pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi. Adapun rinciannya adalah 15 responden (33,34%) dinyatakan berada pada tingkat kecerdasan emosional yang sangat tinggi, 25 responden (55,56%) dinyatakan berada pada tingkat kecerdasan emosional tinggi, 2 responden (4,44%) dinyatakan berada pada tingkat kecerdasan emosional
91
sedang, 2, responden (4,44%) dinyatakan pada tingkat kecerdasan rendah dan 1 responden (2,22%) masuk dalam kategori tingkat kecerdasan sangat rendah. Oleh karena itu dapat dikemukakan bahwa dari 45 sampel penelitian siswa kelas X di SMK PGRI 6 Malang mayoritas telah memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi. Berikut ini tabel klasifikasi tingkat kecerdasan emosional siswa kelas X SMK PGRI 6 Malang. Tabel 4.3 Klasifikasi Tingkat Kecerdasan Emosional (EQ)
No
Kelas Interval
Klasifikasi
Frekuensi
Persentase (%)
1.
82-100
Sangat tinggi
15
33,34
2.
67-81
Tinggi
25
55,56
3.
52-66
Sedang
2
4,44
4.
37-51
Rendah
2
4,44
5.
20-36
Sangat rendah
1
2,22
Jumlah
45
100
(Sumber : Data Primer Olahan Peneliti 2013)
Mengacu pada hasil penelitian di atas maka begitu pentingya pemahaman tentang emosi diri. Setelah anak-anak bermasalah dan cenderung agresif diberikan pengajaran dan pelatihan tentang kecerdasan emosi mereka menjadi anak yang tenang dan mengalami peningkatan prestasi di sekolah. Hal ini merupakan sebuah penemuan yang mampu mendobrak pendapat yang selama ini mengungkapkan bahwa kecerdasan emosi tidak ada pengaruh terhadap prestasi belajar siswa di sekolah. Berdasarkan teori yang ada kecerdasan emosional sangat berpengaruh terhadap kesuksesan hidup seseorang bila dibandingkan dengan kecerdasan inteligensi yang hanya menyumbang sebanyak 20% dari kesuksesan hidup seseorang. Keterampilan emosional (EQ) bukanlah lawan dari keterampilan intelektual, namun keduanya berinteraksi secara dinamis baik pada tingkatan konseptual maupun dunia nyata. Perbedaan yang paling mendasar antara (IQ) dan
92
(EQ) adalah (EQ) tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan sehingga membuka kesempatan bagi orang tua dan para pendidik untuk melanjutkan apa yang disediakan oleh alam agar anak mempunyai peluang lebih besar untuk meraih kesuksesan. 4.1.4.2 Kecerdasan Spiritual (SQ) Berdasarkan data yang diperoleh dari responden yang berjumlah 45 orang siswa SMK PGRI 6 Malang kelas X dilakukan analisis mengenai tingkat kecerdasan spiritual. Angket yang disebarkan terdapat 20 item soal yang berkaitan dengan tingkat kecerdasan spiritual siswa. Adapun rentangan nilai tertinggi adalah 100 dan yang terendah adalah 20, yakni jumlah atau skor dari responden yang menjawab angket dengan pilihan jawaban “Sangat Setuju” sampai “Sangat Tidak Setuju” (5 option jawaban). Setelah diketahui interval maka selanjutnya digunakan untuk menentukan klasifikasi, frekuensi dan persentase tingkat kecerdasan spiritual siswa. Tabel 4.4 menunjukkan pada umumnya tingkat kecerdasan spiritual siswa berada pada tingkat tinggi. Adapun rinciannya adalah 16 responden (35,56%) dinyatakan berada pada tingkat kecerdasan spiritual yang sangat tinggi, 22 responden (48,89%) dinyatakan berada pada tingkat kecerdasan spiritual tinggi, 5 responden (11,11%) dinyatakan pada tingkat kecerdasan spiritual sedang dan 2 responden (4,44%) dinyatakan berada pada tingkat kecerdasan spiritual rendah. Berdasarkan hasil data di atas dapat dikemukakan bahwa dari 45 sampel penelitian siswa kelas X SMK PGRI 6 Malang mayoritas telah memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi.
93
Berikut ini tabel klasifikasi tingkat kecerdasan spiritual siswa kelas X SMK PGRI 6 Malang. Tabel 4.4 Klasifikasi Tingkat Kecerdasan Spiritual (SQ)
No
Kelas Interval
Klasifikasi
Frekuensi
Persentase (%)
1.
82-100
Sangat tinggi
16
35,56
2.
67-81
Tinggi
22
48,89
3.
52-66
Sedang
5
11,11
4.
37-51
Rendah
2
4,44
5.
20-36
Sangat rendah
-
-
Jumlah
45
100
(Sumber : Data Primer Olahan Peneliti 2013) Berdasarkan data di atas maka, begitu besarnya peran kecerdasan spiritual terhadap prestasi belajar anak. Orang yang cerdas secara spiritual biasanya mudah mengikuti kursus-kursus penempatan yang lebih sulit. Mereka memperoleh nila-nilai tinggi dan tentu saja mereka dapat mempunyai kreatifitas yang tinggi. 4.1.3.3 Minat Belajar Berdasarkan data yang diperoleh dari responden yang berjumlah 45 orang siswa SMK PGRI 6 Malang kelas X dilakukan analisis mengenai minat belajar. Berdasarkan angket yang disebarkan terdapat 10 item soal yang berkaitan dengan minat belajar siswa. Adapun rentangan nilai tertinggi adalah 50 dan yang terendah adalah 10, yakni jumlah atau skor dari responden yang menjawab angket dengan pilihan jawaban “Sangat Setuju” sampai “Sangat Tidak Setuju” (5 option jawaban). Setelah diketahui interval maka selanjutnya digunakan untuk menentukan klasifikasi, frekuensi dan persentase minat belajar siswa.
Tabel 4.5 menunjukkan pada umumnya minat belajar siswa berada pada yang tingkat. Adapun rinciannya adalah 15 orang responden (33,33%) dinyatakan
94
memiliki minat belajar yang sangat tinggi, 29 orang responden (64,45%) dinyatakan memiliki minat belajar yang tinggi dan 1 orang responden (2,22%) dinyatakan memiliki minat belajar yang sedang. Berdasarkan hasil data di atas dapat dikemukakan bahwa dari 45 sampel penelitian siswa kelas X SMK PGRI 6 Malang mayoritas siswa telah memiliki minat belajar yang tinggi. Seperti yang telah dikemukakan bahwa minat dapat diartikan sebagai suatu ketertarikan terhadap suatu objek yang kemudian mendorong individu untuk mempelajari dan menekuni segala hal yang berkaitan dengan minatnya tersebut. Minat yang diperoleh melalui adanya suatu proses belajar dikembangkan melalui proses menilai suatu objek yang kemudian menghasilkan suatu penilaian tertentu terhadap objek yang menimbulkan minat seseorang. Berikut ini tabel klasifikasi minat belajar siswa kelas X SMK PGRI 6 Malang: Tabel 4.5 Klasifikasi Minat Belajar Siswa
No
Kelas Interval
Klasifikasi
Frekuensi
Persentase (%)
1.
43-50
Sangat tinggi
15
33,33
2.
35-42
Tinggi
29
64,45
3.
25-34
Sedang
1
2,22
4.
19-26
Rendah
-
-
5.
10-18
Sangat rendah
-
-
Jumlah
45
100
(Sumber : Data Primer Olahan Peneliti 2013) 4.1.4.4 Prestasi Belajar
Berdasarkan data yang diperoleh dari siswa dilakukan analisis mengenai prestasi belajar siswa kelas X SMK PGRI 6 Malang tahun ajaran 2012/2013. Analisis nilai yang tercantum pada daftar prestasi belajar dapat diketahui rentangan nilai prestasi belajar yang tertinggi adalah 87 dan terendah adalah 72 dan diambil antara interval dimana angka tersebut diambil dari dokumentasi yaitu
95
nilai yang ada pada raport. Setelah diketahui interval maka selanjutnya digunakan untuk menentukan klasifikasi, frekuensi dan persentase prestasi belajar siswa. Tabel 4.6 menunjukkan pada umumnya prestasi belajar siswa kelas X SMK PGRI 6 Malang berada pada tingkat cukup baik. Adapun rinciannya adalah 1 orang responden (2,22%) dinyatakan memiliki prestasi belajar dengan tingkat sangat sangat baik, 6 orang responden (13,34%) dinyatakan memiliki tingkat prestasi belajar baik, 23 orang responden (51,11%) dinyatakan memiliki tingkat prestasi belajar cukup baik, dan 10 orang responden (22,22%) dinyatakan memiliki tingkat prestasi belajar kurang, 5 orang responden (11,11%) dinyatakan masuk dalam kategori memiliki nilai prestasi belajar buruk. Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa dari 45 sampel penelitian siswa kelas X SMK PGRI 6 Malang mayoritas telah memiliki prestasi belajar yang tinggi. Semua kegiatan belajar mengajar pada dasarnya adalah berusaha untuk mencapai prestasi yang terbaik. Prestasi belajar merupakan tujuan atau sasaran yang menjadi muara kegiatan belajar mengajar. Bagi seorang siswa yang telah melaksanakan kegiatan belajar mengajar, prestasi merupakan gambaran dari apa yang bisa dicapainya melalui kegiatan yang telah dilaksanakannya. Prestasi belajar juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber motivasi bagi seorang siswa. Bagi anak yang prestasinya masih rendah, hal ini akan menjadi cambuk bagi anak tersebut untuk meningkatkan prestasinya. Bagi anak yang telah memiliki prestasi belajar yang tinggi akan muncul motivasi untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan apa yang telah dicapainya.
96
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya dan bagi anak didik pada umumnya. Berikut ini tabel prestasi belajar siswa kelas X SMK PGRI 6 Malang tahun ajaran 2012/2013. Tabel 4.6 Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMK PGRI 6 Malang
No
Kelas Interval
Klasifikasi
Frekuensi
Persentase (%)
1.
86-89
Sangat baik
1
2,22
2.
82-85
Baik
6
13,34
3.
78-81
Cukup baik
23
51.11
4.
74-77
Kurang
10
22,22
5.
70-73
Buruk
5
11,11
Jumlah
45
100
(Sumber : Data Primer Olahan Peneliti 2013) 4.2 Uji Asumsi Klasik 4.2.1 Uji Normalitas Uji normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi kedua variabel memiliki distribusi normal. Untuk menguji normalitas distribusi data populasi dilakukan dengan menggunakan metode Grafik (Normal Probability Plot) dengan bantuan komputer program SPSS 16.00. Apabila sebaran data pada grafik berada di sekitar garis diagonal dan arah penyebarannya mengikuti arah garis diagonal berarti data berdistribusi normal. Hasil uji normalitas dengan metode Grafik (Normal Probability Plot) tercantum pada Gambar 4.2 sebagai berikut :
97
Gambar 4.2 Metode Grafik (Normal Probability Plot) Berdasarkan gambar 4.2 di atas terlihat bahwa titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal, serta penyebaran tersebut mengikuti arah dan tidak jauh dari garis diagonal. Berdasarkan gambar di atas dapat disimpulkan bahwa data penelitian ini berdistribusi normal. 4.2.2 Uji Multikolinieritas Pengujian Multikolinieritas dimaksudkan untuk membuktikan atau menguji ada tidaknya hubungan yang linier antara variabel bebas (independent) satu dengan variabel lainnya. Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinieritas khususnya dalam model regresi linier, dapat dilihat melalui nilai VIF (Variance Inflaction Factor) dan TOL (tolerance) pada tabel 4.7 berikut.
98
Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Nilai VIF dan Tolerance Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Tolerance VIF 1 (Constant) 44.647 4.622 9.659 .000 kecerdasan emosional .130 .062 2.113 .041 .415 2.411 kecerdasan spiritual .153 .072 2.135 .039 .491 2.035 minat belajar .220 .798 2.245 .030 .651 1.536
(Sumber : Data Olahan SPSS 16.00) Berdasarkan pada tabel 4.7 hasil perhitungan nilai VIF (Variance Inflaction Factor) dan TOL (tolerance) menunjukkan bahwa variabel kecerdasan emosional bernilai 2,411, kecerdasan spiritual bernilai 2,035 dan minat belajar bernilai 1,536, karena dari ketiga variabel tersebut nilai VIF lebih kecil dari 5, maka dapat disimpulkan bahwa antara variabel penjelas satu dengan variabel lainnya dalam penelitian ini tidak saling berkolinieritas atau tidak terjadi multikolinieritas dalam model regresi. 4.2.3 Uji Autokorelasi Uji autokorelasi terdapat korelasi serial diantara data pengamatann atau antara anggota sampel, sehingga muncul suatu data yang dipengaruhi oleh data sebelumnya. Hasil perhitungan Durbin Watson (d) dibandingkan dengan nilai dtabel pada α = 0,05. Tabel d memiliki dua nilai yaitu nilai batas atas (dU) dan nilai bawah (dL) untuk berbagai nilai n dan k.
99
Hasil uji Autokorelasi disajikan pada tabel Model Summary sebagai berikut. Tabel 4.8 Model Summary Autokorelasi Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .772a .597 .567 2.18507 1.474
(Sumber : Data Olahan SPSS 16.00) 4.2.4 Uji Heterokedastisitas Pengujian heterokedastisitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah variasi residual absolute sama atau tidak sama antara pengamatan satu dengan pengamatan yang lain.
Hasil uji Heterokedastisitas dengan metode Grafik (ScatterPlot) tercantum pada Gambar 4.3 sebagai berikut. Gambar 4.3 Metode Grafik (ScatterPlot)
Uji Heteroskedastisitas dapat dilihat dari grafik Scatterplot. Hasil analisis dari grafik tersebut, terlihat titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas, serta tersebar baik di atas maupun di
100
bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi. Berdasarkan hasil uji asumsi klasik yang dilakukan oleh peneliti, seperti terlihat pada gambar 4.2 bahwa titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal yang berarti bahwa data tersebut normal dan bisa dilakukan dengan analisis regresi berganda. Hasil uji multikolineritas terlihat pada tabel 4.7 dimana melihat perbandingan antara hasil perhitungan nilai VIF dan nilai TOL dengan nilai kritikal, dimana diperoleh X1 sebesar 2,411, X2 sebesar 2,035, dan X3 sebesar 1,536 dengan nilai kritikal VIF<5. Melihat hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa variabel X1, X2, X3 tidak terjadi multikolinieritas. Tabel 4.8 menyajikan Durbin Watson sebesar (1,474). Nilai dU = (1,67) dan dL = (1,38) karena nilai Durbin Watson lebih besar dari nilai dU dan lebih kecil 4-dU maka dapat disimpulkan model Regresi bebas gejala Autokorelasi. 4.3 Pengujian Hipotesis 4.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda Hasil analisis regresi berganda yakni pengaruh kecerdasan emosional (X1), kecerdasan spiritual (X2), dan minat belajar (X3) terhadap prestasi siswa (Y) secara langsung menghasilkan persamaan berikut ini. Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e Keterangan: X3 : minat belajar Y : prestasi belajar a : nilai konstanta korelasi antara X1, 2, 3 dan Y
b1, 2, 3 : koefisien korelasi antara X1, 2, 3 dan Y
101
e : kesalahan pengganggu (error) Tabel 4.9 Model Summary Regresi Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .772a .597 .567 2.18507
(Sumber : Data Olahan SPSS.16.00) Berdasarkan tabel 4:9. Nilai Koefisien Korelasi Berganda (R) dan Koefisien Determinasi (R2). Sebagaimana diketahui bahwa Korelasi Berganda merupakan pengujian hubungan untuk variabel lebih dari 2, dalam hal ini nilai koefisien Korelasi Berganda (R2) menunjukkan besarnya hubungan antara variabel bebas Kecerdasan Emosional (EQ)/ (X1), Kecerdasan Spiritual (SQ)/(X2), dan Minat Belajar (X3) secara bersama-sama dengan variabel Prestasi Belajar Siswa (Y). Nilai Koefisien Korelasi 0,772 mendekati 1 yang memiliki makna bahwa variabel bebas Kecerdasan Emosional (EQ)/(X1), Kecerdasan Spiritual (SQ)/(X2), dan Minat Belajar (X3) secara bersama-sama memiliki hubungan yang kuat dengan varibel Prestasi Siswa (Y). Angka (R square) menunjukkan koefisien determinasi. Besar (R square) adalah 0,597. Hal ini memiliki makna bahwa Kecerdasan Emosional (EQ)/(X1), Kecerdasan Spiritual (SQ)/(X2), dan Minat Belajar (X3) mampu memberikan kontribusi sebesar 59,7 % terhadap Prestasi Belajar Siswa (Y), dengan demikian sisanya sebesar 40,3% ditentukan oleh variabel lain yang tidak diteliti.
102
Tabel 4.10 Hasil Analisi Regresi Berganda Masing-Masing Variabel Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 44.647 4.622 9.659 .000 kecerdasan emosional .130 .062 .325 2.113 .041 kecerdasan spiritual .153 .072 .302 2.135 .039 minat belajar .220 .098 .276 2.245 .030
(Sumber : Data Olahan SPSS.16.00) Persamaan regresi berganda: Y = 44,647 + 0,130 X1 + 0,153X2 + 0,220X3 Keterangan:
Konstanta 44,647 menyatakan jika variabel (X1), (X2), dan (X3) sama dengan 0, maka besar (Y) adalah 44,647;
Koefisien regresi kecerdasan emosional sebesar 0,130, menunjukkan besarnya pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar siswa;
Koefisien regresi kecerdasan spiritual sebesar 0,153, menunjukkan besarnya pengaruh kecerdasan spiritual terhadap prestasi belajar siswa;
Koefisien regresi minat belajar sebesar 0,220, menunjukkan besarnya pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar siswa.
4.3.2 Uji t Uji t digunakan untuk menguji pengaruh masing-masing variabel bebas, maka interprestasi dilakukan sendiri-sendiri yaitu untuk variabel Kecerdasan Emosional (X1), Kecerdasan Spiritual (X2), dan Minat Belajar (X3). Pengujian dilakukan dengan cara membandingkan nilai thitung dengan ttabel pada taraf α = 0,05 dan derajat bebas (n-1) = 45-1 = 44 dimana diperoleh nilai ttabel = 2,015
103
1. Pengujian pengaruh kecerdasan emosional (X1) terhadap prestasi belajar siswa (Y)
Kriteria Pengujian: Taraf α = 0,05 thitung > ttabel atau Sig. < 0,05 maka H0 ditolak (Ha diterima) thitung ≤ ttabel atau Sig. ≥ 0,05 maka H0 diterima (Ha ditolak) Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai thitung = 2,113 dengan ttabel = 2,015 atau thitung > ttabel dengan nilai Sig. 0,041 lebih kecil dari 0,05 maka (H01 ditolak) dan (Ha1 diterima) artinya kecerdasan emosional (X1) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa.
2. Pengujian pengaruh kecerdasan spiritual (X2) terhadap prestasi belajar siswa (Y)
Kriteria Pengujian: Taraf α = 0,05 thitung > ttabel atau Sig. < 0,05 maka H0 ditolak (Ha diterima) thitung ≤ ttabel atau Sig. ≥ 0,05 maka H0 diterima (Ha ditolak) Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai thitung = 2,135 dengan ttabel = 2,015 atau thitung > ttabel dengan nilai Sig. 0,039 lebih kecil dari 0,05 maka (H02 ditolak) dan (Ha2 diterima) artinya kecerdasan spiritual (X2) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa.
3. Pengujian pengaruh minat belajar (X3) terhadap prestasi belajar siswa (Y)
Kriteria Pengujian: Taraf α = 0,05
thitung > ttabel atau Sig. < 0,05 maka H0 ditolak (Ha diterima)
104
thitung ≤ ttabel atau Sig. ≥0,05 maka H0 diterima (Ha ditolak) Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai thitung = 2,245 dengan ttabel = 2,015 atau thitung > ttabel dengan nilai Sig. 0,030 lebih kecil dari 0,05 maka (H03 ditolak) dan (Ha3 diterima) artinya minat belajar (X3) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. 4.3.3 Uji F (Anova) Tabel 4.11 Pengujian Hipotesis secara Simultan (Bersama-sama) ANOVAb Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 289.445 3 96.482 20.208 .000a Residual 195.755 41 4.775 Total 485.200 44
(Sumber : Data Olahan SPSS.16.00) Uji F digunakan untuk menguji signifikansi hubungan variabel-variabel independen dengan variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan cara membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel pada taraf α = 0,05 dan derajat bebas (n-2) = 45-2 = 43 dimana diperoleh nilai Ftabel = 2,840 Kriteria Pengujian. Taraf α = 0,05 Fhitung > Ftabel atau Sig. < 0,05 maka H0 ditolak (Ha diterima) Fhitung ≤ Ftabel atau Sig. ≥ 0,05 maka H0 diterima (Ha ditolak)
Berdasarkan perbandingan antara Fhitung dengan Ftabel di atas, maka besarnya Fhitung (20,208) > Ftabel (2,840) atau Sig. 0,000 < 0,05% maka H04 ditolak (Ha4 diterima) artinya kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan minat
105
belajar secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa. 4.4 Pembahasan 4.4.1 Pengaruh Kecerdasan Emosional (X1) terhadap Prestasi Belajar Siswa (Y) Hasil pengolahan data menerangkan bahwa terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan dari kecerdasan emosional (EQ) terhadap prestasi siswa dengan koefisien regresi sebesar 13%. Karakter ini memberikan interprestasi bahwa responden yang memiliki kecerdasan emosional akan berbanding lurus dengan prestasi belajar untuk nilai raport mata pelajar kewirausahaan yang diperolehnya. Artinya peningkatan kecerdasan emosional yang lebih baik dapat meningkatkan prestasi belajarnya dalam mata pelajaran kewirausahaan. Diharapkan dengan dikembangkannya kecerdasan emosional, siswa dapat mengelola emosinya menjadi lebih terkendali, siswa tidak diarahkan kepada hal-hal yang negatif dan diajari untuk mengendalikan emosinya, jika hal tersebut tidak diperhatikan maka dapat menghambat kecerdasan emosi mereka dan hal yang lebih buruk dari itu pelampiasan pada tindakan yang destruktif, seperti tawuran antar siswa yang sedang marak terjadi pada saat ini. Inilah salah satu alat ukur bahwa masih rendahnya emosi kecerdasan siswa. Menurut Goleman (2003:67) kecerdasan emosional justru akan mengantarkan kesuksesan siswa diberbagai organisasi dan perusahaan.
106
Kecerdasan emosional akan mengantarkan siswa untuk bersikap empatik dan simpatik kepada sesama siswa, guru, orang tua, bahkan masyarakat luas. Kecerdasan emosi yang sudah pada level tinggi pada kelas X di SMK PGRI 6 Malang perlu di perluas lingkupnya pada siswa siswa yang level kecerdasan emosinya masih rendah dan siswa diluar sampel penelitian. Oleh karena itu guru dalam proses pembelajaran di kelas hendaknya dapat melihat bagaimana tingkat kecerdasan siswa dan pemberian apresiasi yang tinggi bagi siswanya memenuhi kualifikasi yang baik untuk kecerdasan emosionalnya. 4.4.2 Pengaruh Kecerdasan Spiritual (X2) terhadap Prestasi Belajar Siswa (Y) Hasil pengolahan data menerangkan bahwa terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan dari kecerdasan spiritual terhadap prestasi siswa dengan koefisien regresi sebesar 15,3%. Karakter ini memberikan memberikan interprestasi bahwa responden yang memiliki kecerdasan spiritual akan berbanding lurus dengan prestasi belajar untuk nilai raport mata pelajar kewirausahaan yang diperolehnya. Artinya peningkatan kecerdasan spiritual yang lebih baik dapat meningkatkan prestasi belajarnya dalam mata pelajaran kewirausahaan.
Adapun penelitian ini, karena belum ada skala kecerdasan spiritual yang baku di Indonesia, maka penulis berusaha membuat sendiri skala kecerdasan spiritual sebanyak 20 item soal berdasarkan 5 dimensi yang diadopsi dari Hersan Ananto (2008) yaitu : Prinsip ketuhanan, kepercayaan yang teguh, berjiwa kepemimpinan, berjiwa pembelajar, berorientasi pada masa depan dan prinsip keteraturan.
107
Penelitian pada siswa kelas X di SMK PGRI 6 Malang telah menunjukkan bahwa tingkat keceradasan siswa berada pada tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi. Hal ini tentu sudah baik tapi masih perlu di tingkatkan lagi sehingga siswa dengan tingkat SQ yang tinggi dapat memiliki kesadaran bahwa menuntut ilmu adalah ibadah. Jadi proses rutinitas siswa dalam belajar adalah suatu pengabdian kepada Allah yang pada akhirnya menyadari bahwa belajar adalah kebutuhan bukan kewajiban. 4.4.3 Pengaruh Minat Belajar (X3) terhadap Prestasi Beajara Siswa (Y) Hasil pengolahan data menerangkan bahwa terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan dari minat belajar terhadap prestasi siswa dengan koefisien regresi sebesar 22%. Karakter ini memberikan memberikan interprestasi bahwa responden yang memiliki minat belajar akan berbanding lurus dengan prestasi belajar untuk nilai raport mata pelajar kewirausahaan yang diperolehnya. Artinya peningkatan minat belajar yang lebih baik dapat meningkatkan prestasi belajarnya dalam mata pelajaran kewirausahaan. Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa. Siswa yang menaruh minat besar terhadap bidang studi tertentu akan memusatkan perhatiannya lebih banyak dari pada siswa lain, sehingga memungkinkan siswa tersebut untuk belajar lebih giat dan pada akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.
Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, akan sering dipelajari oleh siswa yang bersangkutan, dan sebaliknya bahan pelajaran yang tidak menarik
108
minat siswa tentu akan dikesampingkan oleh siswa. Minat mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Guru juga salah satu obyek yang dapat merangsang dan membangkitkan minat belajar siswa. Guru yang berhasil membina kesediaan belajar murid-muridnya berarti telah melakukan hal-hal yang terpenting yang dapat dilakukan demi kepentingan murid-muridnya. Guru yang pandai, baik, ramah, disiplin, serta disenangi murid sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan minat murid, sebaliknya guru yang memiliki sikap buruk dan tidak disukai oleh murid, akan sukar dapat merangsang timbulnya minat dan perhatian murid. Bentuk-bentuk kepribadian gurulah yang dapat mempengaruhi timbulnya minat siswa. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar guru harus peka terhadap situasi kelas. Ia harus mengetahui dan memperhatikan akan metode-metode mengajar yang cocok dan sesuai dengan tingkatan kecerdasan para siswanya, artinya guru harus memahami kebutuhan dan perkembangan jiwa siswanya. 4.4.4 Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, Minat Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa
Berdasarkan hasil analisis regresi berganda antara pengaruh kecerdasan emosional (X1), kecerdasan spiritual (X2), dan minat belajar terhadap prestasi belajar siswa (Y) menunjukkan bahwa variabel X memiliki angka signifikansi di
109
bawah angka 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan minat belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Koefisien regresi signifikan artinya variabel X memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Hasil analisis Regresi menunjukkan bahwa (R square)/(R2) merupakan koefisien determinasi. Besar R square adalah 0,597. Hal ini berarti 59,7% perubahan variabel (Y) yaitu prestasi belajar siswa disebabkan oleh perubahan variabel (X) yaitu kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan minat belajar. Sedangkan sisanya 40,3% disebabkan oleh faktor lain di luar kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan minat belajar yaitu faktor keluarga, sekolah, masyarakat, metode pembelajaran, lingkungan (Slameto, 2004:54). Hasil pengeloahan data menerangkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kecerdasan emosional (X1) sebesar 13%, kecerdasan spiritual (X2) sebesar 15,3%, dan minat belajar sebesar 22%. Karakter ini memberikan interprestasi bahwa responden yang memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan minat belajar akan berbanding lurus dengan prestasi belajar siswa. Artinya peningkatan kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan minat belajar yang lebih baik dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
Peranan EQ membentuk kembali peran sekolah adalah dengan membangun budaya yang membuat sekolah menjadi komunitas yang peduli, tempat murid merasa dihargai, diperhatikan dan memiliki ikatan dengan teman, guru dan sekolah itu sendiri. Keterampilan emosional akan memperbaiki nilai akademis dan kinerja sekolah anak, keterampilan emosional memperhebat
110
kemampuan sekolah anak dan keterampilan emosional memperhebat kemampuan sekolah untuk mengajar. Begitu pula dengan tingkat spiritual anak, anak yang bersemangat dan kreatif dapat menguras tenaga kita dengan banyaknya angan-angan, hasrat dan energi mereka yang terfokus. Orang yang cerdas secara spiritual biasanya mudah mengikuti kursus-kursus penempatan yang lebih sulit. Mereka memperoleh nilai-nilai tinggi dan tentu saja mereka dapat mempunyai kreatifitas yang tinggi. Belajar Kewirausahaan juga perlu adanya banyak latihan agar siswa mendapat banyak pengalaman tentang berbagai bentuk soal mata pelajaran kewirausahaan dan pemecahannya. Proses berlangsungnya pembelajaran di sekolah, hendaknya siswa memiliki minat yang tinggi terhadap pelajaran yang diikutinya. Kurangnya minat menyebabkan kurangnya perhatian, partisipasi dan usaha dalam proses pembelajaran, akibat dari kurangnya minat belajar tentunya akan berdampak pada prestasi belajarnya juga. Setiap kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh siswa ada beberapa yang mendorong diri mereka. Salah satunya adalah minat. Siswa akan lebih baik jika seorang siswa belajar didorong karena minat yang kuat daripada siswa yang belajar tanpa minat sama sekali. Minat tersebut akan timbul dalam diri siswa apabila murid tertarik akan sesuatu karena sesuatu tersebut merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi dirinya atau merasa bahwa sesuatu tersebut merupakan hal yang harus dipelajari dan ketika ia sudah mempelajari maka akan timbul kebermaknaan dan berguna bagi dirinya.
Teori-teori yang membahas mengenai EQ, SQ dan minat belajar apabila dikaitkan dengan peningkatan prestasi belajar maka terdapat pengaruh yang
111
signifikan. Kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) cenderung berkaitan dengan status manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial (dimensi horizontal) serta kurang menyentuh persoalan inti kehidupan yang menyangkut fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (dimensi vertikal), dan minat belajar sebagai motivasi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang memiliki sifat kemanusian dan juga sifat ketuhanan, manusia juga memerlukan jenis kecerdasan lain yang berdimensi vertikal, yang kemudian dikenal dengan sebutan kecerdasan spiritual. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengaruh kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan minat belajar memiliki peranan yang cukup penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar